Hukum dari aqiqah adalah sunnah muakkad. Sebagai bentuk syukur maka dilaksanakanlah peringatan aqiqah pada hari ke 7, 14 atau 21. Hewan yang digunakan sebagai binatang aqiqah hendaknya kambing jantan, meskippun demikian aqiqah kambing betina juga tidak masalah. Lantas tanggungjawab pelaksanaan aqiqah dibebankan kepada orang tua kah?

Tanggungjawab Pelaksanaan Aqiqah

Tanggungjawab Pelaksanaan Aqiqah
Ayah yang bertanggungjawab mengaqiqahkan anaknya. Sumber Unsplash

Karena hukum aqiqah adalah sunnah muakkad. Aqiqah itu dianjurkan untuk orang yang mampu untuk mengerjakannya, tidak ada paksaan atau kewajiban untuk melaksanakannya. Jika tidak ada kemampuan maka boleh ditinggalkan, seperti firman Allah:

فالتقوا الله مااستطعهم 

Yang artinya : “maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (At-Taghobun / 64:16)”.

Tanggungjawab pelaksanaan aqiqah ada pada seorang ayah termasuk bgaimana memikirkan tata cara pelaksanaan aqiqah. Sebab, ayah adalah kepala keluarga yang memiliki kewajiban untuk menafkahi anak dan keluarga. Tidak ada tanggungan untuk mengaqiqahkan anaknya bagi seorang ibu, saudara, maupun orang lain. Namun ada beberapa pendapat ulama mengenai perkara ini.

Menurut Mazhab Maliki dan Hambali yang bertanggung jawab untuk aqiqah adalah orang tua laki-laki maksudnya adalah ayah. Kemudian ada pendapat yang menguatkan, yaitu Imam Ahmad ketika ditanya jika belum diaqiqahkan oleh ayahnya, hukumnya bagaimana? Beliau menjawab : kewajiban itu atas ayahnya.

Pendapat Ibnu Hazm Adzahiri dari mazhab Zhahiri, jika si anak memiliki harta dan mampu untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri maka boleh, akan tetapi jika tidak mampu dan masih memiliki ayah, maka ayah yang harus bertanggung jawab. jika si anak tidak mampu, dan tidak memiliki ayah. Tanggungjawab pelaksanaan aqiqah ada pada ibunya.

Rasulullah SAW. Pernah mengaqiqahkan cucunya yakni Hasan dan Husaein, sebab waktu itu perekonomian ayahnya Hasan dan Husein yakni Ali sedang terhimpit jadi Rosulullah membantunya. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, yang berkewajiban atas aqiqah tidak hanya orang tua, akan tetpai orang yang memelihara juga bersangkutan.

Kemampuan Orangtua

Jika orang tua tidak mampu untuk mengaqiqahkan anaknya, maka tanggung jawab orang tua untuk mengaqiqahkan anaknya menjadi gugur artiny ia tidak lagi memiliki tanggungjawab untuk mengaqiqahkan. Karena aqiqah itu dianjurkan kepada orang-orang yang mampu saja untuk melaksanakannya, sebagaimana firman berikut ini.

لا بكلف الله نفسا الا وسعها 

Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al-Baqoroh /2:286)”

Sedangkan jika orang tua sudah meninggal dan belum ada kesempatan untuk mengaqiqahkan anak-anak yang ditinggalkannya maka :

  • Jika orang tuanya memang tidak memiliki kesanggupan untuk melaksanakan aqiqah di waktu masih hidup, maka si anak tidak berkewajiban untuk mengqodo aqiqahnya. Sebab orang tua tidak memiliki bebana untuk mengaqiqahi anak-anaknya.
  • Jika orang tuanya adalah seseorang yang mampu untuk mengaqiqahkan anaknya, tapi hingga ia meninggal anak-anaknya belum juga diaqiqahkan, karena tidak mengetahui informasi seputar aqiqah dan hukum hukumnya. Maka keluarga atau anak harus melaksanakan aqiqah dan mendiskusikannya dengan keluarga.
  • Jika semua ahli waris ingin melakukan aqiqah bersama, maka boleh menggunakan harta warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya yang sudah meninggal tadi.
  • Jika salah satu ahli warisnya memiliki gangguan mental, atau akal yang terbatas dan belum diaqiqahkan oleh orang tuanya. Maka anak itu tidak boleh mengambil harta warisan untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri. Karena seseorang yang kehilangan akal tidak terkena taklif syariat. Jikalau anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya dan mereka ingin mewakilkan orangtuanya mengaqiqahkan dirinya, maka dibolehkan untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri.

Aqiqah Diri Sendiri

Tanggungjawab Pelaksanaan Aqiqah
Aqiqah diri sendiri dibolehkan jika orang tua tidak memiliki kemampuan. Sumber Unsplash

Sebagian para ulama yang berpendapat bahwa mengaqiqahkan dirinya sendiri itu dibolehkan. Jika memang dia tahu bahwa orang tuanya belum mengaqiqahkan dirinya. Namun sebagian ulama juga berpendapat bahwa yang boleh mengaqiqahkan anaknya hanyalah ayahnya. Jika si ayah mengaqiqahkan anaknya maka ayahnya mendapat pahala. Jika tidak, maka tidak mendapat pahala.

Jadi, tanggungjawab pelaksanaan aqiqah adalah pada sosok ayah sebagai kepala keluarga. Untuk lebih jelasnya, bisa menghubungi penyedia jasa aqiqah Jakarta, Aqiqah Satu yang sudah berpengalaman menangani aqiqah di daerah Jakarta dan sekitarnya. Semoga artikel ini bermanfaat dan terima kasih.